Menatap Pesona Sunset Bumi Tanadoang

Menatap Pesona Sunset  Bumi Tanadoang

Sabtu, 03 Maret 2012

Menelusuri Jejak Kehidupan Pemulung TPA Kaburu

Kehidupan pemulung TPA di Kabupaten Kepulauan Selayar masih menyisakan sejuta teka-teki menyusul belum diketahui pastinya motif yang melatar belakangi kehidupan para pencari barang bekas yang kerap beroperasi di sekitar lingkungan Tempat Pembuangan Akhir sampah yang terletak di Dusun Kaburu, Desa Jambuiya, Kecamatan Bontomanai ini.
Banyak pihak yang mengatakan, kehidupan pemulung TPA tak lebih dari sekedar mata pencaharian sampingan dan pengisi waktu, setelah musim kopra berlalu, atau  pengisi waktu senggang, sembari menantikan buah kelapa mereka mulai menua untuk selanjutnya diolah menjadi  kopra.
Dikatakan demikian, sebab rata-rata para pemulung ini memiliki lahan perkebunan yang lokasinya tidak berjauhan dengan kawasan tempat pembuangan akhir, sehingga begitu mobil pengangkut sampah datang, mereka pun spontan berhamburan menuju TPA untuk mengais sampah-sampah plastik bekas buangan masyarakat kota Benteng.
Salah seorang staf bidang pengelolaan dan pembuangan akhir TPA yang sehari-harinya aktif bertugas di lingkungan Dinas Kebersihan & Pertamanan Kabupaten Kepulauan Selayar menuturkan, para pemulung barang bekas di kawasan TPA ini biasanya mulai bekerja mengumpulkan plastik aqua, dan kaleng susu bekas  antara pukul 08.00 hingga pukul 18.00 Wita.
Satu hal yang pasti, bahwa mereka tidak satupun yang terlihat tinggal menempati kawasan tempat pembuangan akhir. Bilapun ada bangunan tenda-tenda yang mereka bangun lokasi tersebut, tak lebih dari sekedar tempat bernaung dan beristrahat para pemulung seusai bekerja mengais rezeki diantara tumpukan sampah menggunung berbau.
Di bawah bangunan tenda-tenda plastik berukuran variatif antara 2x 4 meter sampai 4x4 meter ini pula para pemulung terkadang bekerja mengemas barang-barang hasil pilahan mereka ke dalam karung-karung plastik yang telah disediakan sebelumnya.
Bahkan, tak sedikit diantara mereka yang harus menjadikan pohon besar di sekitar areal TPA sebagai tempat berteduh dan mengemas barang-barang bekas yang telah dikumpulkannya untuk selanjutnya dijual kepada para pedagang pengumpul.
Para pemulung yang terdiri dari anak usia sekolah dasar dan orang dewasa ini, biasanya baru akan beranjak pulang  ke rumahnya masing-masing saat hari menjelang malam. Dikala  azan magrib mulai terdengar berkumandang di masjid.
Sebelumnya, mereka akan terlebih dahulu mengunci bangunan tenda-tenda tempat mereka menyimpan dan mengamankan barang-barang pilahan yang telah dikemas ke dalam karung.
Meski tidak demikian halnya, bagi mereka kelompok pemulung suami-istri yang datang ke lokasi TPA dengan membawa perbekalan makanan seadanya.
Ada cerita menarik dari kehidupan tempat pembuangan akhir sampah di Desa Kaburu, bahwa ternyata lokasi ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan manusia, tetapi  kawasan TPA  ternyata juga merupakan sumber kehidupan bagi 20 an ekor ternak piaraan masyarakat, baik sapi, kambing, maupun anjing-anjing liar berotak manusia di sekitar areal pembuangan akhir sampah ini.
Dikatakan ternak berotak manusia, sebab sapi,  kambing, dan anjing-anjing liar ini baru akan mendatangi lokasi tempat pembuangan akhir setiap kali armada mobil pengangkut sampah datang membawa sampah-sampah buangan masyarakat kota yang terdiri dari sampah dedaunan maupun sisa-sisa makanan.
Sisa-sisa makanan inilah yang selanjutnya menjadi santapan anjing-anjing liar di sekitar areal TPA. Sedangkan, sapi dan kambing datang berburu sampah dedaunan. Hal tersebut dijelaskan Kepala Bidang Pengelolaan dan Pembuangan Akhir, Dinas Kebersihan & Pertamanan Kabupaten Kepulauan Selayar, Drs.Bahtiar Dg. Pattale kepada wartawan di ruang kerjanya belun lama ini.   
Kendati masih terdapat cerita lain yang lumayan memprihatinkan, bahwa ternyata dari sekian banyak warga pemulung yang kerap beroperasi di kawasan TPA  dua diantaranya sempat diberikan pinjaman uang sebesar satu juta rupiah dari Dinas Kebersihan & Pertamanan  untuk kepentingan biaya pembayaran penerangan listrik rumah tempat tinggal mereka.
Parahnya lagi, karena sampai saat ini  mereka ternyata belum mampu melunasi panjar pembayaran listrik yang dipinjamnya dari Dinas Kebersihan & Pertamanan Kabupaten Kepulauan Selayar. 
Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Kebersihan & Pertamanan Kabupaten Kepulauan Selayar, Drs. Odding Karim, M.H banyak berharap untuk dapat melakukan pemberdayaan kehidupan warga pemulung di kawasan TPA.
Sudah saatnya, warga pemulung diorganisir dalam wadah organisasi komunitas pemulung untuk kemudian, diberdayakan melalui pembentukan koperasi pemulung sebagai fasilitator penampung dan pembeli barang-barang bekas hasil pilahan para pemulung itu sendiri.
Sehingga, barang hasil pilahan para pemulung ini tidak lagi tinggal dan menjadi pemandangan kumuh di sekitar kawasan TPA. Odding berharap, tak hanya koperasi yang banyak berperan di dalam pemberdayaan kelompok pemulung.
Akan tetapi, institusi pemberdayaan perempuan dan pemberdayaan masyarakat pun diharapkan dapat mengambil peran serta pada kepentingan peningkatan taraf perekonomian komunitas pemulung TPA untuk menunjang terwujudnya visi Kabupaten Kepulauan Selayar sebagai kabupaten yang sejahtera, maju & religius.  (fadly syarif)

Meretas Langkah & Menapaki Jejak Sejarah Perjuangan Di Bumi Bontomarannu


Penyebutan Desa Bontomarannu, Kecamatan Bontomanai sebagai pusat pemerintahan Belanda dan Jepang di era penjajahan, ternyata bukanlah sekedar isapan jempol belaka. Terbukti, di wilayah ini masih sangat banyak dijumpai situs peninggalan sejarah masa lalu, diantaranya : Buhung Silo, Buhung Ulu Ere, dan patok batas wilayah yang ditancapkan Pemerintah Kolonial Belanda di areal pembangunan tower PT. Telkom kawasan puncak Desa Bontomarannu.
Menurut penuturan saksi sejarah di Desa Bontomarannu, Baho Dg. Sitojeng, dulunya Pemerintah Belanda pernah mendirikan sebuah menara di kawasan puncak. Namun belakangan, menara tersebut,  hancur dan musnah diledakkan penjajah Nippong (Jepang).
Selain situs-situs ini, tak jauh dari lokasi Buhung Silo, juga masih dapat dijumpai sisa-sisa lantai dan puing-puing ex bangunan kamar mandi markas Jepang. Meski kini, puing-puing bangunanya mulai tampak diselimuti semak belukar.
Kamar mandi inilah yang dulunya digunakan Pemerintah Jepang untuk keperluan mandi air panas bersama dengan antek-anteknya dengan cara mengalirkan air dari Buhung Silo melalui pipa-pipa besi yang pembakarannya tak pernah padam.
Kendati tak dapat dipungkiri, bahwa sumur-sumur seperti ini juga dapat dijumpai, tepat di kaki bukit Bumi Bontomarannu. Sebagaimana rekaman gambar yang berhasil diabadikan wartawan media ini saat akan bertolak meninggalkan kawasan Ibukota Desa Bontomarannu.
Di lokasi ini, terdapat sedikitnya dua buah sumur yang terselip di antara himpitan bebatuan. Sumur ini selanjutnya diberi nama Sumur Kembar. Kendati sebelumnya, kedua sumur dimaksud, masih dalam status sumur tanpa nama.
Menurut Baho, sebelum menguasai wilayah Desa Bontomarannu, Pemerintah Jepang awalnya tinggal mendiami sebuah bangunan Bangsal yang pertama kali dibangun di Dusun Appabatu, Desa Parak, Kecamatan Bontomanai.
Setelah itu, mereka berpindah ke Dusun Cinimabela dan kembali mendirikan bangunan Bangsal atau yang lebih kerap diistilahkan dengan camp sebagai pusat kegiatan penjajah Nippong selama keberadaannya di Selayar.
Dan baru beberapa tahun kemudian, pasukan Nippong Hijrah ke wilayah Desa Bontomarannu dan mulai melakukan aktivitas pembangunan asrama, yang kini tinggal menyisakan bagian lantai dasar, dan puing-puing bangunan ex kamar mandi saja.
Pada saat itu, wilayah ini masih dinamakan Dusun Gantarang, dan baru sekarang berubah menjadi Dusun Bontomarannu. Petikan sejarah ini sendiri, dituangkan Baho Dg. Sitojeng sebagai seorang pelaku sejarah yang pernah bekerja dan mengabdikan diri kepada Pemerintah Jepang selama kurun waktu tiga tahun, tiga bulan di wilayah Dusun Gantarang, sekarang Dusun Bontomarannu.
Selama kurun waktu tiga tahun, tiga bulan, Baho Dg. Sitojeng ditugaskan sebagai seorang mandor atau kepala pengawas, bertempat di lokasi tempat bekerjanya para pekerja rodi yang merupakan tawanan penjajah Jepang, kala itu.
Saat itu, Baho Dg. Sitojeng, tak seorang diri. Dia didampingi oleh dua orang warga pribumi lainnya yakni, Sandak dan Ponggaha Jambuiya yang ditugasi sebagai eksekutor tukang cambuk, bila sekali waktu ada masyarakat Indonesia yang mencoba untuk memberontak dan tidak bersedia mematuhi ketentuan Pemerintah Jepang.
Kejamnya lagi, sebab pada masa tersebut, Pemerintah Jepang acap kali menggudangkan dan sama sekali tidak mendistribusikan bahan baku makanan kepada masyarakat yang enggan bekerja untuk kemaslahatan Pemerintah Jepang.
Padahal, beras, garam dan ikan kering, adalah harapan kehidupan satu-satunya bagi masyarakat sipil di era tersebut. Sehingga, masyarakat pribumi tak punya pilihan lain, terkecuali mengabdi kepada Pemerintah Jepang agar mereka bisa tetap mendapatkan suplay bahan baku makanan, untuk sekedar memenuhi kebutuhan sesuap nasi bagi keluarga.
Kekuasaan dan kekejaman Pemerintah Jepang baru berakhir, setelah Penjajah Kolonial Belanda datang kembali ke wilayah itu dan melakukan penyerangan habis-habisan terhadap asrama Jepang dan turut menenggelamkan seperdua wilayah kekuasaan Pemerintah Jepang di wilayah Dusun Gantarang melalui serangan bom udara.
Sementara, Pemerintah Jepang yang kala itu harus berhadapan dengan penjajah kolonial Belanda hanya bisa mengandalkan senjata samurai dan beberapa pucuk senjata api laras panjang milik mereka.
Selain mereka juga turut dilengkapi dengan persenjataan tradisional berupa tombak berbahan baku pohong pinang yang pertama kali di design di wilayah Batu Baba, Dusun Bontomarannu.(*)
            









Mengungkap Awal Mula Penyebaran Syariat Islam Dari Pintu Pantai Timur Gantarang Lalang Bata

Desa Bontomarannu, Kecamatan Bontomanai, Kabupaten Kepulauan Selayar, ternyata tidak hanya banyak menyisakan catatan sejarah perjuangan perebutan kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI, Red) dari tangan penjajah.
Akan tetapi, wilayah yang dinakhodai Mappa Boererah ini ternyata juga sangat banyak menyisakan catatan sejarah mengenai penyebaran syariat Islam pertama yang diawali dari pintu pantai timur, Dusun Gantarang Lalang Bata, tempat berlabuhnya kapal milik Datu Ri Bandang.
Saat pertama kali menapakkan kakinya di Bumi Gantarang Lalang Bata, Datu Ri Bandang langsung melakukan misi pengislaman di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar dan sekitarnya.
Pada masa itu, Datu Ri Bandang mengawali langkahnya dengan terlebih dahulu memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang maksud kedatangannya ke Kabupaten Kepulauan Selayar, sebagaimana yang ditirukan salah seorang pelaku sejarah di wilayah Desa Bontomarannu, Baho Dg. Sitojeng berikut ini, “Nia’ma’ anne Battu Ri Gowa, Lampassalangngi, Tau Ri Gantarang, Nala Sunnako, Potong Gigi, Potong Rambut  dengan melafadzkan dua kalimat syahadat, Ashadu Allah Ilaha Illallah, Wa’as Hadu Anna Muhammadarrasulullah”. 
Setelah melakukan pengislaman pertama kali di Bumi Gantarang, Datu Ri Bandang langsung meminta salah seorang  anak yang telah disunat untuk sejenak menunduk dan melihat alat kelaminnya yang telah dipotong, sembari bertanya kepada sang anak, sakit ???, ujar Datu Ri Bandang yang ditimpali anak tersebut dengan jawaban singkat, tidak.
Usai dijawab oleh sang anak, Datu Ri Bandang menjelaskan, bahwa  kegiatan penyunatan adalah simbol pertama masuknya Agama Islam ke Kabupaten Kepulauan Selayar, secara resmi. Untuk selanjutnya, dari Dusun Gantarang Lalang Bata, Datu Ri Bandang bergerak menuju ke daerah-daerah terpencil lain di Kabupaten Kepulauan Selayar dengan membawa misi pengislaman yang oleh masyarakat lokal di Desa Bontomarannu kerap diistilahkan dengan “Silamong”.
Dalam perjalanannya itulah, Datu Ri Bandang bersama Sultan Raja Dg. Pangali’ singgah beristrahat di Dusun Cinimabela yang merupakan pemaknaan dari tempat Pa’bela-Belaang, atau tempat beristrahatnya, para tokoh alim ulama penyebar syariat Islam pertama di Kabupaten Kepulauan Selayar.
Bersamaan dengan kedatangan Datu Ri Bandang dan Sulta Raja Dg. Pangali ke kabupaten di ujung selatan Provinsi Sulawesi-Selatan ini, Ummat Islam  di Kabuten Kepulauan Selayar pun, mulai dikenalkan pada sebuah pepatah yang berbunyi, Dato Bandang, Wa Dato Tiro, Mangkasaria.
Pepatah inilah yang kemudian mengilhami mulai dilestarikannya tradisi rate’ di hampir seluruh penjuru Bumi Tanadoang, baik Rate’ Juma (Rate’nya Nabi Adam AS), Rate Maulid (Rate’nya, Baginda Nabi Besar Muhammad SAW), dan Rate’ Sanneng (Rate’nya Allah SWT).
Bahkan dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, lahir pula istilah tingkasa yang salah satu diantaranya berbunyi : Bonto Bangung Tani Beta, Tani Sauru Janganna, Pammottokinna Kala Sa’ramu Dallea. Disusul kemudian, dengan lahirnya tingkasa berbunyi : Balang Butung, Buki Tonja, Dg. Lempangang Kala Sa’ramu Dallea. Berikutnya, kembali muncul tingkasa berbunyi : Balang Butung, Buki Tonja, Balang Buki, Buki Tonja, Na Dg. Lempangang Gowaja Lappassanderi.
Tingkasa terakhir ini bermakna, Balang Butung dan Buki merupakan satu kesatuan wilayah yang tidak dapat terpisahkan antara satu sama lain. Sementara kalimat Na Dg. Lempangang Gowaja Lappassanderi bermakna, kedua wilayah tersebut di atas, yakni Balang Butung dan Buki, terkesan menyegani Kabupaten Gowa, sebagai daerah asal Sultan Raja Dg. Pangali,  jelas Kepala Dusun Bontomarannu Baho Dg. Sitojeng, yang sekaligus adalah saksi sejarah di wilayah tersebut.
Berangkat dari tingkasa terakhir ini pula, masyarakat Kohala sempat mengajukan keberatan kepada Pemerintah kabupaten Kepulauan Selayar, saat mereka akan dipisahkan dengan wilayah Balang Butung yang awal mulanya merupakan satu kesatuan yang tak terpisakan dari Desa Buki lama.
Lebih jauh Baho menjelaskan, keberadaan Dusun Gantarang Lalang Bata sebagai kawasan penyebaran syariat Islam pertama di Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dibuktikan dengan keberadaan mimbar warisan leluhur, beralaskan selembar kain putih, di Masjid Babul Khaer, Desa Bontomarannu.
Mimbar serupa juga dapat dijumpai di Masjid Babul Jannah, Dusun Gollek, Desa Bontomarannu yang masih komplit dengan beduk atau yang dalam dialek Bahasa Selayar kerap disebut Tumba, berikut pemukulnya.
Beduk biasanya ditabuh sebagai simbol akan segera masuknya waktu shalat. Terkhusus  pada hari Jumat, beduk biasanya ditabuh sebanyak dua kali. Tabuhan berkali-kali menandakan panggilan shalat untuk masyarakat muslim, sedang tabuhan yang berulang sampai empat kali menyimbolkan akan segera masuknya waktu shalat Jum’at yang beberapa menit kemudian akan disusul suara adzan, cetusnya di akhir perbincangan dengan wartawan. (*)

Selasa, 14 Februari 2012

Diskopuindag Tamben Kepulauan Selayar Rekomendasikan CV. Sugi Bontomanai


Dinas Koperasi, Perindustrian, UKM, Perindag, Pertambangan dan Energi Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulsel, resmi mengusulkan dan merekomendsaikan nama CV. Sugi Bontomanai sebagai wakil UKM Inovatif yang akan bersaing dengan UKM-UKM Inovatif lain dari Sulsel untuk mewakili Indonesia pada ajang publikasi tingkat ASEAN Agency Small And Medium Enterprice Working Group.
Pengusulan nama CV. Sugi Bontomanai ini didasarkan pada pertimbangan bahwa, CV. Sugi Bontomanai merupakan sebuah UKM inovatif terbaik di daratan Kepulauan Selayar yang selama ini bergerak di bidang jasa pembuatan dan pemesanan souvenir kursi ukiran bermotif Jepara serta dalam perkembangannya menganut pola pendekatan bahan baku kayu jati hasil peremajaan  dari  Kabupaten  Kepulauan  Selayar.
Selain itu, usaha ini juga dinilai telah mampu menembus sejumlah jaringan Display Pemasaran, baik skala lokal Kabupaten Kepulauan Selayar, maupun pasaran regional Sulawesi-Selatan.
Ungkapan ini dilontarkan Kepala Bidang UKM Diskopuindag Tamben Kepulauan Selayar, Baso Kasim, SE kepada wartawan hari Selasa, (14/2) pagi. (fadly syarif)

Senin, 13 Februari 2012

Setahun Pemerintahan Syiar Menjangkau Masyarakat Pedalaman Terpencil


Sentuhan kebijakan pembangunan berangsur-angsur mulai dirasakan masyarakat pedalaman terpencil pada enam wilayah kecamatan daratan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan sebagaimana yang saat ini tengah dirasakan masyarakat Dusun Gollek, Desa Bontomarannu, Kecamatan Bontomanai.
Menurut tokoh masyarakat setempat bernama Ronda, kepemimpinan Drs. H. Syahrir Wahab, MM dan paketnya H. Saiful Arif, SH sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar Periode 2010-2015, telah sangat banyak memberikan arti perubahan di tengah-tengah kehidupan warga masyarakat pedalaman dan terpencil di daerah ini.
Paling tidak, saat ini warga masyarakat Dusun Gollek, Desa Bontomarannu pun telah menikmati fasilitas bangunan MCK persembahan pemerintah kepada rakyat sebagai wujud keberpihakan dan kepedulian pemerintah terhadap peningkatan derajat kesehatan warga masyarakat kecil di daerah pedalaman terpencil.
Regulasi pembangunan fisik lain yang paling dirasakan asas dan manfaatnya bagi masyarakat adalah penuntasan lapangan bulu tangkis di depan Masjid Babul Jannah, Dusun Gollek, Desa Bontomarannu yang dituntaskan melalui bantuan Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar, H. Saiful Arif, SH, sebagaimana ditandaskan tomas Dusun Gollek Tua kepada wartawan yang menyambanginya hari Minggu, (12/2) pagi kemarin.
Lebih jauh masyarakat Dusun Gollek juga telah menikmati jalan lingkar rabat beton yang menghubungkan Dusun Gollek Tua dengan pusat ibukota Desa Bontomarannu.(fadly syarif)        
  

Dewan Pengurus Korpri Unit Diskopuindag Tamben Resmi Dikukuhkan


Untuk kali ke empat di tahun 2012, Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan, Dr. H. Zainuddin, SH.MH dalam kapabilitasnya sebagai Ketua Dewan Pengurus Korpri kabupaten kembali melakukan pelantikan dan pengukuhan terhadap Dewan Pengurus Korpri Unit Diskopuindag Tamben Periode 2010-2015.
Pada pelantikan kali ini Sekda Kepulauan Selayar mengukuhkan sedikitnya 44 orang pengurus Korpri Unit Diskopuindag Tamben, 13 diantaranya merupakan pengurus inti yang terdiri atas ketua dewan Pembina, hingga koordinator masing-masing seksi.
Turut hadir dalam acara tersebut masing-masing Sekretaris Dewan Pengurus Korpri, Hj. Samsiah bersama jajaran, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, UKM, Perindag & Pertambangan, H. Rustam Nur, SH.
Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya, disusul pembacaan surat keputusan Dewan Pengurus Korpri kabupaten tentang Komposisi dan Personalian Dewan Pengurus Korpri Unit Diskopuindag Tamben Periode 2010-2015, diikuti, pelantikan/pengukuhan pengurus, serta penandatanganan berita acara pelantikan oleh Ketua Dewan Pengurus Kopri kabupaten, berturut-turut Ketua Dewan Pengurus Kopri unit Diskopuindag Tamben.
Sekretaris daerah Kepulauan Selayar di sela-sela acara pengukuhan mengungkapkan rasa  optimis, bahwa dewan pengurus korpri yang telah diambil sumpahnya akan mampu melaksanakan tugas dan kewajiban yang dibebankan oleh Dewan Pengurus Korpri kabupaten”. 
Dia berharap, Dewan pengurus korpri unit Diskopuindag Tamben yang baru saja dikukuhkan senantiasa memupuk kebersamaan dengan mengefektifkan jalinan komunikasi antar sesama anggota dan pengurus sebagai sebuah simbol telah berjalan efektifnya reformasi dan perubahan tatanan di dalam tubuh organisasi korpri.
Setelah sebelumnya, pada masa orde baru, organisasi korpri sempat terseret oleh dinamika perpolitikan dan kepemerintahan bangsa Indonesia yang berlangsung selama hampir kurang lebih 32 tahun, cetus Zainuddin di sela-sela sambutannya pada kegiatan pelantikan/pengukuhan  Dewan Pengurus Korpri Unit Diskopuindag Tamben yang dipusatkan di Aula Dinas Koperasi, Perindustrian, UKM, Perindag, Pertambangan dan Eneri Kabupaten Kepulauan Selayar, hari Senin, (13/2) siang. (fadly syarif) 
   

Selasa, 07 Februari 2012

Tahun 2012 Selayar Awali Penerbangan Langsung Makassar-Takabonerate


Bila tidak aral melintang, tahun 2012 ini Pemprov Sulsel bersama Pemkab Kepulauan Selayar sepakat untuk membuka penerbangan langsung dari Makassar ke obyek pariwisata bahari, tepatnya, Taman Laut Nasional Takabonerate.
Rencananya Pemerintah Provinsi akan menyiapkan sarana transportasi udara khusus wisatawan yang akan berkunjung ke Takabonerate dengan kapasitas 12 penumpang.
Dalam kaitan itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan akan terus berupaya memajukan sektor pariwisata di daerahnya. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, H. Agus Arifin Nu’mang dalam lawatan kunjungan kerjanya ke Kabupaten Kepulauan Selayar belum lama ini.
Upaya Pemerintah Provinsi ini dilakukan untuk mempermudah akses kunjungan wisata ke Takabonerate yang merupakan obyek wisata bahari kedua di dunia.
Dengan hadirnya pesawat buatan Amerika ini, diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah ini dan supaya potensi obyek wisata Takabonerate harus terus dibenahi termasuk infrastruktur landasan pacu dan jalan yang menghubungkan ke obyek wisata agar para turis senang berkunjung ke Takabonerate.
Pesawat jenis ini sudah lama beroperasi di Papua dan memiliki kemudahan operasional karena tidak membutuhkan landasan pacu yang panjang, sehingga sangat proporsional untuk dioperasikan di Takabonerate.
Dihadapan para Kepala Desa, Camat dan jajaran pemerintah Kabupaten Selayar, Wakil Gubernur memuji hasil pertumbuhan ekonomi daerah ini yang telah mampu mencapai 8,1 persen atau berada pada posisi keempat tertinggi di Sulawesi Selatan.
Pihaknya berharap diawal tahun 2012 pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan akan mencapai 9 persen karena keberhasilan itu tidak lepas dari dukungan pemerintah kabupaten/pemerintah kota di Sulawesi Selatan yang terus menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui program pembukaan lapangan kerja pada semua sektor terutama di bidang pertanian.(fadly syarif)


Warning : Mohon Untuk Tidak Dicopy Paste Tanpa Se izin Penulis

Kawasan Taman Laut Nasional Takabonerate Gantikan Posisi Bunaken Sebagai Icon Dunia


Keberadaan dan Kekayaan Kabupaten Kepulauan Selayar yang dikenal dengan Taman Laut Nasional Takaboneratenya harus didorong agar bisa bermanfaat bagi kemajuan Sulsel pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Luas areal karang di kawasan Taman Laut Nasional Takabonerate mencapai 27.200 km2 sehingga menjadi atol terluas di dunia dengan nilai keragaman biota laut (Grate) mencapai 35 poin jauh diatas Bunaken yang hanya mampu mencapai poin 27.
 Pengembangan kawasan wisata bahari Taman Laut Nasional Takabonerate diharapkan bukan hanya berorientasi pariwisata, tapi juga dapat menjadi wadah pelestarian lingkungan, penelitian dan pendidikan. 
Hal tersebut diungkapkan Gubernur Sulsel, H. Syahrul Yasin Limpo dalam kesempatan wawancara ekslusif dengan wartawan via telefon selular belum lama ini. Dikatakannya, ekspedisi Takabonerate telah menjadi Calender of Event Pemprov Sulsel  dengan mempertimbangkan posisi Taman Laut Nasional Takabonerate sebagai kawasan atol ketiga dunia terbesar, plus sebagai icon dunia.
Setelah  di blow up dalam tiga tahun terakhir, expedisi Takabonerate telah terbukti mampu menarik dan menyerap perhatian wisatawan, khususnya di kalangan wisatawan Mancanegara.
Kendati event ini diakui Syahrul, memang agak renggang untuk melihat fluktuasi naik turunnya kunjungan wisatawan ke kawasan Taman Laut Nasional Takabonerate. Berangkat dari dasar pemikiran tersebut Pemprov Sulsel berencana untuk meningkatkan status event expedisi Takabonerate menjadi Sail Takabonerate pada tahun 2012 ini. (fadly syarif)   

Warning : Mohon Untuk Tidak Dicopy Paste

TOP RELEASE

Gaul Cell Selayar

Gaul Cell Selayar
Jual Beragam Jenis Telefon Selular & Melayani Service Kerusakan Ponsel
Powered By Blogger