Menatap Pesona Sunset Bumi Tanadoang

Menatap Pesona Sunset  Bumi Tanadoang

Sabtu, 03 Maret 2012

Meretas Langkah & Menapaki Jejak Sejarah Perjuangan Di Bumi Bontomarannu


Penyebutan Desa Bontomarannu, Kecamatan Bontomanai sebagai pusat pemerintahan Belanda dan Jepang di era penjajahan, ternyata bukanlah sekedar isapan jempol belaka. Terbukti, di wilayah ini masih sangat banyak dijumpai situs peninggalan sejarah masa lalu, diantaranya : Buhung Silo, Buhung Ulu Ere, dan patok batas wilayah yang ditancapkan Pemerintah Kolonial Belanda di areal pembangunan tower PT. Telkom kawasan puncak Desa Bontomarannu.
Menurut penuturan saksi sejarah di Desa Bontomarannu, Baho Dg. Sitojeng, dulunya Pemerintah Belanda pernah mendirikan sebuah menara di kawasan puncak. Namun belakangan, menara tersebut,  hancur dan musnah diledakkan penjajah Nippong (Jepang).
Selain situs-situs ini, tak jauh dari lokasi Buhung Silo, juga masih dapat dijumpai sisa-sisa lantai dan puing-puing ex bangunan kamar mandi markas Jepang. Meski kini, puing-puing bangunanya mulai tampak diselimuti semak belukar.
Kamar mandi inilah yang dulunya digunakan Pemerintah Jepang untuk keperluan mandi air panas bersama dengan antek-anteknya dengan cara mengalirkan air dari Buhung Silo melalui pipa-pipa besi yang pembakarannya tak pernah padam.
Kendati tak dapat dipungkiri, bahwa sumur-sumur seperti ini juga dapat dijumpai, tepat di kaki bukit Bumi Bontomarannu. Sebagaimana rekaman gambar yang berhasil diabadikan wartawan media ini saat akan bertolak meninggalkan kawasan Ibukota Desa Bontomarannu.
Di lokasi ini, terdapat sedikitnya dua buah sumur yang terselip di antara himpitan bebatuan. Sumur ini selanjutnya diberi nama Sumur Kembar. Kendati sebelumnya, kedua sumur dimaksud, masih dalam status sumur tanpa nama.
Menurut Baho, sebelum menguasai wilayah Desa Bontomarannu, Pemerintah Jepang awalnya tinggal mendiami sebuah bangunan Bangsal yang pertama kali dibangun di Dusun Appabatu, Desa Parak, Kecamatan Bontomanai.
Setelah itu, mereka berpindah ke Dusun Cinimabela dan kembali mendirikan bangunan Bangsal atau yang lebih kerap diistilahkan dengan camp sebagai pusat kegiatan penjajah Nippong selama keberadaannya di Selayar.
Dan baru beberapa tahun kemudian, pasukan Nippong Hijrah ke wilayah Desa Bontomarannu dan mulai melakukan aktivitas pembangunan asrama, yang kini tinggal menyisakan bagian lantai dasar, dan puing-puing bangunan ex kamar mandi saja.
Pada saat itu, wilayah ini masih dinamakan Dusun Gantarang, dan baru sekarang berubah menjadi Dusun Bontomarannu. Petikan sejarah ini sendiri, dituangkan Baho Dg. Sitojeng sebagai seorang pelaku sejarah yang pernah bekerja dan mengabdikan diri kepada Pemerintah Jepang selama kurun waktu tiga tahun, tiga bulan di wilayah Dusun Gantarang, sekarang Dusun Bontomarannu.
Selama kurun waktu tiga tahun, tiga bulan, Baho Dg. Sitojeng ditugaskan sebagai seorang mandor atau kepala pengawas, bertempat di lokasi tempat bekerjanya para pekerja rodi yang merupakan tawanan penjajah Jepang, kala itu.
Saat itu, Baho Dg. Sitojeng, tak seorang diri. Dia didampingi oleh dua orang warga pribumi lainnya yakni, Sandak dan Ponggaha Jambuiya yang ditugasi sebagai eksekutor tukang cambuk, bila sekali waktu ada masyarakat Indonesia yang mencoba untuk memberontak dan tidak bersedia mematuhi ketentuan Pemerintah Jepang.
Kejamnya lagi, sebab pada masa tersebut, Pemerintah Jepang acap kali menggudangkan dan sama sekali tidak mendistribusikan bahan baku makanan kepada masyarakat yang enggan bekerja untuk kemaslahatan Pemerintah Jepang.
Padahal, beras, garam dan ikan kering, adalah harapan kehidupan satu-satunya bagi masyarakat sipil di era tersebut. Sehingga, masyarakat pribumi tak punya pilihan lain, terkecuali mengabdi kepada Pemerintah Jepang agar mereka bisa tetap mendapatkan suplay bahan baku makanan, untuk sekedar memenuhi kebutuhan sesuap nasi bagi keluarga.
Kekuasaan dan kekejaman Pemerintah Jepang baru berakhir, setelah Penjajah Kolonial Belanda datang kembali ke wilayah itu dan melakukan penyerangan habis-habisan terhadap asrama Jepang dan turut menenggelamkan seperdua wilayah kekuasaan Pemerintah Jepang di wilayah Dusun Gantarang melalui serangan bom udara.
Sementara, Pemerintah Jepang yang kala itu harus berhadapan dengan penjajah kolonial Belanda hanya bisa mengandalkan senjata samurai dan beberapa pucuk senjata api laras panjang milik mereka.
Selain mereka juga turut dilengkapi dengan persenjataan tradisional berupa tombak berbahan baku pohong pinang yang pertama kali di design di wilayah Batu Baba, Dusun Bontomarannu.(*)
            









Mengungkap Awal Mula Penyebaran Syariat Islam Dari Pintu Pantai Timur Gantarang Lalang Bata

Desa Bontomarannu, Kecamatan Bontomanai, Kabupaten Kepulauan Selayar, ternyata tidak hanya banyak menyisakan catatan sejarah perjuangan perebutan kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI, Red) dari tangan penjajah.
Akan tetapi, wilayah yang dinakhodai Mappa Boererah ini ternyata juga sangat banyak menyisakan catatan sejarah mengenai penyebaran syariat Islam pertama yang diawali dari pintu pantai timur, Dusun Gantarang Lalang Bata, tempat berlabuhnya kapal milik Datu Ri Bandang.
Saat pertama kali menapakkan kakinya di Bumi Gantarang Lalang Bata, Datu Ri Bandang langsung melakukan misi pengislaman di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar dan sekitarnya.
Pada masa itu, Datu Ri Bandang mengawali langkahnya dengan terlebih dahulu memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang maksud kedatangannya ke Kabupaten Kepulauan Selayar, sebagaimana yang ditirukan salah seorang pelaku sejarah di wilayah Desa Bontomarannu, Baho Dg. Sitojeng berikut ini, “Nia’ma’ anne Battu Ri Gowa, Lampassalangngi, Tau Ri Gantarang, Nala Sunnako, Potong Gigi, Potong Rambut  dengan melafadzkan dua kalimat syahadat, Ashadu Allah Ilaha Illallah, Wa’as Hadu Anna Muhammadarrasulullah”. 
Setelah melakukan pengislaman pertama kali di Bumi Gantarang, Datu Ri Bandang langsung meminta salah seorang  anak yang telah disunat untuk sejenak menunduk dan melihat alat kelaminnya yang telah dipotong, sembari bertanya kepada sang anak, sakit ???, ujar Datu Ri Bandang yang ditimpali anak tersebut dengan jawaban singkat, tidak.
Usai dijawab oleh sang anak, Datu Ri Bandang menjelaskan, bahwa  kegiatan penyunatan adalah simbol pertama masuknya Agama Islam ke Kabupaten Kepulauan Selayar, secara resmi. Untuk selanjutnya, dari Dusun Gantarang Lalang Bata, Datu Ri Bandang bergerak menuju ke daerah-daerah terpencil lain di Kabupaten Kepulauan Selayar dengan membawa misi pengislaman yang oleh masyarakat lokal di Desa Bontomarannu kerap diistilahkan dengan “Silamong”.
Dalam perjalanannya itulah, Datu Ri Bandang bersama Sultan Raja Dg. Pangali’ singgah beristrahat di Dusun Cinimabela yang merupakan pemaknaan dari tempat Pa’bela-Belaang, atau tempat beristrahatnya, para tokoh alim ulama penyebar syariat Islam pertama di Kabupaten Kepulauan Selayar.
Bersamaan dengan kedatangan Datu Ri Bandang dan Sulta Raja Dg. Pangali ke kabupaten di ujung selatan Provinsi Sulawesi-Selatan ini, Ummat Islam  di Kabuten Kepulauan Selayar pun, mulai dikenalkan pada sebuah pepatah yang berbunyi, Dato Bandang, Wa Dato Tiro, Mangkasaria.
Pepatah inilah yang kemudian mengilhami mulai dilestarikannya tradisi rate’ di hampir seluruh penjuru Bumi Tanadoang, baik Rate’ Juma (Rate’nya Nabi Adam AS), Rate Maulid (Rate’nya, Baginda Nabi Besar Muhammad SAW), dan Rate’ Sanneng (Rate’nya Allah SWT).
Bahkan dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, lahir pula istilah tingkasa yang salah satu diantaranya berbunyi : Bonto Bangung Tani Beta, Tani Sauru Janganna, Pammottokinna Kala Sa’ramu Dallea. Disusul kemudian, dengan lahirnya tingkasa berbunyi : Balang Butung, Buki Tonja, Dg. Lempangang Kala Sa’ramu Dallea. Berikutnya, kembali muncul tingkasa berbunyi : Balang Butung, Buki Tonja, Balang Buki, Buki Tonja, Na Dg. Lempangang Gowaja Lappassanderi.
Tingkasa terakhir ini bermakna, Balang Butung dan Buki merupakan satu kesatuan wilayah yang tidak dapat terpisahkan antara satu sama lain. Sementara kalimat Na Dg. Lempangang Gowaja Lappassanderi bermakna, kedua wilayah tersebut di atas, yakni Balang Butung dan Buki, terkesan menyegani Kabupaten Gowa, sebagai daerah asal Sultan Raja Dg. Pangali,  jelas Kepala Dusun Bontomarannu Baho Dg. Sitojeng, yang sekaligus adalah saksi sejarah di wilayah tersebut.
Berangkat dari tingkasa terakhir ini pula, masyarakat Kohala sempat mengajukan keberatan kepada Pemerintah kabupaten Kepulauan Selayar, saat mereka akan dipisahkan dengan wilayah Balang Butung yang awal mulanya merupakan satu kesatuan yang tak terpisakan dari Desa Buki lama.
Lebih jauh Baho menjelaskan, keberadaan Dusun Gantarang Lalang Bata sebagai kawasan penyebaran syariat Islam pertama di Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dibuktikan dengan keberadaan mimbar warisan leluhur, beralaskan selembar kain putih, di Masjid Babul Khaer, Desa Bontomarannu.
Mimbar serupa juga dapat dijumpai di Masjid Babul Jannah, Dusun Gollek, Desa Bontomarannu yang masih komplit dengan beduk atau yang dalam dialek Bahasa Selayar kerap disebut Tumba, berikut pemukulnya.
Beduk biasanya ditabuh sebagai simbol akan segera masuknya waktu shalat. Terkhusus  pada hari Jumat, beduk biasanya ditabuh sebanyak dua kali. Tabuhan berkali-kali menandakan panggilan shalat untuk masyarakat muslim, sedang tabuhan yang berulang sampai empat kali menyimbolkan akan segera masuknya waktu shalat Jum’at yang beberapa menit kemudian akan disusul suara adzan, cetusnya di akhir perbincangan dengan wartawan. (*)

Selasa, 14 Februari 2012

Diskopuindag Tamben Kepulauan Selayar Rekomendasikan CV. Sugi Bontomanai


Dinas Koperasi, Perindustrian, UKM, Perindag, Pertambangan dan Energi Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulsel, resmi mengusulkan dan merekomendsaikan nama CV. Sugi Bontomanai sebagai wakil UKM Inovatif yang akan bersaing dengan UKM-UKM Inovatif lain dari Sulsel untuk mewakili Indonesia pada ajang publikasi tingkat ASEAN Agency Small And Medium Enterprice Working Group.
Pengusulan nama CV. Sugi Bontomanai ini didasarkan pada pertimbangan bahwa, CV. Sugi Bontomanai merupakan sebuah UKM inovatif terbaik di daratan Kepulauan Selayar yang selama ini bergerak di bidang jasa pembuatan dan pemesanan souvenir kursi ukiran bermotif Jepara serta dalam perkembangannya menganut pola pendekatan bahan baku kayu jati hasil peremajaan  dari  Kabupaten  Kepulauan  Selayar.
Selain itu, usaha ini juga dinilai telah mampu menembus sejumlah jaringan Display Pemasaran, baik skala lokal Kabupaten Kepulauan Selayar, maupun pasaran regional Sulawesi-Selatan.
Ungkapan ini dilontarkan Kepala Bidang UKM Diskopuindag Tamben Kepulauan Selayar, Baso Kasim, SE kepada wartawan hari Selasa, (14/2) pagi. (fadly syarif)

Senin, 13 Februari 2012

Setahun Pemerintahan Syiar Menjangkau Masyarakat Pedalaman Terpencil


Sentuhan kebijakan pembangunan berangsur-angsur mulai dirasakan masyarakat pedalaman terpencil pada enam wilayah kecamatan daratan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan sebagaimana yang saat ini tengah dirasakan masyarakat Dusun Gollek, Desa Bontomarannu, Kecamatan Bontomanai.
Menurut tokoh masyarakat setempat bernama Ronda, kepemimpinan Drs. H. Syahrir Wahab, MM dan paketnya H. Saiful Arif, SH sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar Periode 2010-2015, telah sangat banyak memberikan arti perubahan di tengah-tengah kehidupan warga masyarakat pedalaman dan terpencil di daerah ini.
Paling tidak, saat ini warga masyarakat Dusun Gollek, Desa Bontomarannu pun telah menikmati fasilitas bangunan MCK persembahan pemerintah kepada rakyat sebagai wujud keberpihakan dan kepedulian pemerintah terhadap peningkatan derajat kesehatan warga masyarakat kecil di daerah pedalaman terpencil.
Regulasi pembangunan fisik lain yang paling dirasakan asas dan manfaatnya bagi masyarakat adalah penuntasan lapangan bulu tangkis di depan Masjid Babul Jannah, Dusun Gollek, Desa Bontomarannu yang dituntaskan melalui bantuan Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar, H. Saiful Arif, SH, sebagaimana ditandaskan tomas Dusun Gollek Tua kepada wartawan yang menyambanginya hari Minggu, (12/2) pagi kemarin.
Lebih jauh masyarakat Dusun Gollek juga telah menikmati jalan lingkar rabat beton yang menghubungkan Dusun Gollek Tua dengan pusat ibukota Desa Bontomarannu.(fadly syarif)        
  

Dewan Pengurus Korpri Unit Diskopuindag Tamben Resmi Dikukuhkan


Untuk kali ke empat di tahun 2012, Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan, Dr. H. Zainuddin, SH.MH dalam kapabilitasnya sebagai Ketua Dewan Pengurus Korpri kabupaten kembali melakukan pelantikan dan pengukuhan terhadap Dewan Pengurus Korpri Unit Diskopuindag Tamben Periode 2010-2015.
Pada pelantikan kali ini Sekda Kepulauan Selayar mengukuhkan sedikitnya 44 orang pengurus Korpri Unit Diskopuindag Tamben, 13 diantaranya merupakan pengurus inti yang terdiri atas ketua dewan Pembina, hingga koordinator masing-masing seksi.
Turut hadir dalam acara tersebut masing-masing Sekretaris Dewan Pengurus Korpri, Hj. Samsiah bersama jajaran, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, UKM, Perindag & Pertambangan, H. Rustam Nur, SH.
Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya, disusul pembacaan surat keputusan Dewan Pengurus Korpri kabupaten tentang Komposisi dan Personalian Dewan Pengurus Korpri Unit Diskopuindag Tamben Periode 2010-2015, diikuti, pelantikan/pengukuhan pengurus, serta penandatanganan berita acara pelantikan oleh Ketua Dewan Pengurus Kopri kabupaten, berturut-turut Ketua Dewan Pengurus Kopri unit Diskopuindag Tamben.
Sekretaris daerah Kepulauan Selayar di sela-sela acara pengukuhan mengungkapkan rasa  optimis, bahwa dewan pengurus korpri yang telah diambil sumpahnya akan mampu melaksanakan tugas dan kewajiban yang dibebankan oleh Dewan Pengurus Korpri kabupaten”. 
Dia berharap, Dewan pengurus korpri unit Diskopuindag Tamben yang baru saja dikukuhkan senantiasa memupuk kebersamaan dengan mengefektifkan jalinan komunikasi antar sesama anggota dan pengurus sebagai sebuah simbol telah berjalan efektifnya reformasi dan perubahan tatanan di dalam tubuh organisasi korpri.
Setelah sebelumnya, pada masa orde baru, organisasi korpri sempat terseret oleh dinamika perpolitikan dan kepemerintahan bangsa Indonesia yang berlangsung selama hampir kurang lebih 32 tahun, cetus Zainuddin di sela-sela sambutannya pada kegiatan pelantikan/pengukuhan  Dewan Pengurus Korpri Unit Diskopuindag Tamben yang dipusatkan di Aula Dinas Koperasi, Perindustrian, UKM, Perindag, Pertambangan dan Eneri Kabupaten Kepulauan Selayar, hari Senin, (13/2) siang. (fadly syarif) 
   

Selasa, 07 Februari 2012

Tahun 2012 Selayar Awali Penerbangan Langsung Makassar-Takabonerate


Bila tidak aral melintang, tahun 2012 ini Pemprov Sulsel bersama Pemkab Kepulauan Selayar sepakat untuk membuka penerbangan langsung dari Makassar ke obyek pariwisata bahari, tepatnya, Taman Laut Nasional Takabonerate.
Rencananya Pemerintah Provinsi akan menyiapkan sarana transportasi udara khusus wisatawan yang akan berkunjung ke Takabonerate dengan kapasitas 12 penumpang.
Dalam kaitan itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan akan terus berupaya memajukan sektor pariwisata di daerahnya. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, H. Agus Arifin Nu’mang dalam lawatan kunjungan kerjanya ke Kabupaten Kepulauan Selayar belum lama ini.
Upaya Pemerintah Provinsi ini dilakukan untuk mempermudah akses kunjungan wisata ke Takabonerate yang merupakan obyek wisata bahari kedua di dunia.
Dengan hadirnya pesawat buatan Amerika ini, diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah ini dan supaya potensi obyek wisata Takabonerate harus terus dibenahi termasuk infrastruktur landasan pacu dan jalan yang menghubungkan ke obyek wisata agar para turis senang berkunjung ke Takabonerate.
Pesawat jenis ini sudah lama beroperasi di Papua dan memiliki kemudahan operasional karena tidak membutuhkan landasan pacu yang panjang, sehingga sangat proporsional untuk dioperasikan di Takabonerate.
Dihadapan para Kepala Desa, Camat dan jajaran pemerintah Kabupaten Selayar, Wakil Gubernur memuji hasil pertumbuhan ekonomi daerah ini yang telah mampu mencapai 8,1 persen atau berada pada posisi keempat tertinggi di Sulawesi Selatan.
Pihaknya berharap diawal tahun 2012 pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan akan mencapai 9 persen karena keberhasilan itu tidak lepas dari dukungan pemerintah kabupaten/pemerintah kota di Sulawesi Selatan yang terus menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui program pembukaan lapangan kerja pada semua sektor terutama di bidang pertanian.(fadly syarif)


Warning : Mohon Untuk Tidak Dicopy Paste Tanpa Se izin Penulis

Kawasan Taman Laut Nasional Takabonerate Gantikan Posisi Bunaken Sebagai Icon Dunia


Keberadaan dan Kekayaan Kabupaten Kepulauan Selayar yang dikenal dengan Taman Laut Nasional Takaboneratenya harus didorong agar bisa bermanfaat bagi kemajuan Sulsel pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Luas areal karang di kawasan Taman Laut Nasional Takabonerate mencapai 27.200 km2 sehingga menjadi atol terluas di dunia dengan nilai keragaman biota laut (Grate) mencapai 35 poin jauh diatas Bunaken yang hanya mampu mencapai poin 27.
 Pengembangan kawasan wisata bahari Taman Laut Nasional Takabonerate diharapkan bukan hanya berorientasi pariwisata, tapi juga dapat menjadi wadah pelestarian lingkungan, penelitian dan pendidikan. 
Hal tersebut diungkapkan Gubernur Sulsel, H. Syahrul Yasin Limpo dalam kesempatan wawancara ekslusif dengan wartawan via telefon selular belum lama ini. Dikatakannya, ekspedisi Takabonerate telah menjadi Calender of Event Pemprov Sulsel  dengan mempertimbangkan posisi Taman Laut Nasional Takabonerate sebagai kawasan atol ketiga dunia terbesar, plus sebagai icon dunia.
Setelah  di blow up dalam tiga tahun terakhir, expedisi Takabonerate telah terbukti mampu menarik dan menyerap perhatian wisatawan, khususnya di kalangan wisatawan Mancanegara.
Kendati event ini diakui Syahrul, memang agak renggang untuk melihat fluktuasi naik turunnya kunjungan wisatawan ke kawasan Taman Laut Nasional Takabonerate. Berangkat dari dasar pemikiran tersebut Pemprov Sulsel berencana untuk meningkatkan status event expedisi Takabonerate menjadi Sail Takabonerate pada tahun 2012 ini. (fadly syarif)   

Warning : Mohon Untuk Tidak Dicopy Paste

Jumat, 03 Februari 2012

Polres Kepulauan Selayar Tetapkan 5 Tersangka Pelaku Penganiayaan Brigadir Nur Abidin

Aparat Kepolisian Resort Kepulauan Selayar , Sulsel secara resmi mengumumkan nama tersangka penganiayaan yang menimpa Brigadir Nur Abidin, saat akan berusaha melerai perkelahian di lingkungan Pa’batuang, Kelurahan Benteng Selatan, pada hari Minggu, (22/1) sekira pukul 18.40 Wita, kemarin.
Brigadir Nur Abidin adalah anggota Polres Kepulauan Selayar yang baru saja naik pangkat pada awal bulan Januari 2012 ini.
Informasi yang beredar melalui akun facebook Polres Kepulauan Selayar menyebutkan, “tersangka bernama Basri alias Bacci”. Yang bersangkutan, saat ini masih dalam pengejaran aparat Polres Kepulauan Selayar dan telah resmi ditetapkan sebagai DPO.
            Aparat kepolisian berkeyakinan, tersangka masih berada di sekitar wilayah hukum Polres Kepulauan Selayar. Hal tersebut diaminkan Kapolres Kepulauan Selayar AKBP. Setiadi melalui pesan singkatnya yang mengungkapkan, “tersangka sementara dalam tahap pengejaran dan pencarian.  
Terkait hal tersebut, aparat kepolisian Resort Kepulauan Selayar memohon bantuan partisipasi, bagi siapa saja warga masyarakat yang pernah melihat, atau pun secara kebetulan, mengetahui lokasi persembunyian tersangka Basri als Bacci.
Laporan dapat disampaikan melalui telfon selular milik Kaur Bin Ops Sat Reskrim Polres Kepulauan Selayar  di nomor : 081 355 324  619, atau dengan cara melapor ke pos penjagaan Polres Kepulauan Selayar.
Kapolres Kepulauan Selayar, AKBP. Setiadi mengatakan, dari lima orang tersangka, tiga diantaranya telah berhasil diciduk bersama barang bukti 2 buah parang yang diduga digunakan oleh para tersangka.
Ketiga tersangka diciduk pada hari Kamis, (26/1) kemarin. Selain menangkap tiga orang tersangka, aparat Kepolisian Polres Kepulauan Selayar juga tengah melakukan proses pemeriksaan kepada tiga orang warga masyarakat lainnya yang diduga kuat menyembunyikan para tersangka.  (*)   


Pemkab Kepulauan Selayar Bangun Irigasi & Jalan Usaha Tani


       Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar melalui leading sektor Dinas Pertanian & Kehutanan kembali membuktikan wujud kepekaan, kepedulian, dan keberpihakannya terhadap keberlangsungan hidup warga petani di wilayah Kecamatan Bontoharu.
      Wujud kepekaan tersebut, salah satunya dituangkan Pemkab Kepulauan Selayar melalui kegiatan penyediaan dan pengembangan sarana prasarana pertanian dalam bentuk kegiatan pengembangan irigasi partisipatif (PIP,red) di  Dusun Baera Utara, Desa Bonto Tangnga, Kecamatan Bontoharu.
      Dalam pelaksanaan kegiatan yang melibatkan kelompok Pokta Dusun Baera Utara dan Barat ini, pemerintah pusat melalui Pemkab Kepulauan Selayar kembali menggolontorkan anggaran senilai tujuh puluh lima juta rupiah yang anggarannya bersumber dari alokasi Dana APBN-TP tahun 2011.
     Pada tahun anggaran yang sama, Dinas Pertanian & Kehutanan Kabupaten Kepulauan Selayar juga tercatat berhasil merampungkan kegiatan pembangunan jalan usaha tani ruas Baera Utara-Kajammengang bervolume 3,00 X 520,00 meter.
    Perampungan  kegiatan pembangunan usaha jalan tani yang dilaksanakan CV. Sinar Baru ini diperkirakan memakan anggaran sebesar  Sembilan puluh Sembilan juta, tujuh ratus lima ribu rupiah.   
   Hasilnya, masyarakat petani di lingkungan Dusun Baera Utara, Desa Bonto Tangnga pun akhirnya mampu bernafas lega, pasca perampungan proyek pembangunan usaha jalan tani yang dilaksanakan selama kurang lebih Sembilan puluh hari kalender dengan dukungan bantuan konsultan pengawas, dalam hal ini CV. Dian Perdana.(Laporan : Fadly Syarif) 

Selasa, 31 Januari 2012

Menapaki Keberadaan Benda Cagar Budaya Di Bumi Tanadoang, Kepulauan Selayar

     Ditinjau dari sudut pandang letak geografisnya yang terpisah dari daratan Sulawesi-Selatan ditambah dengan sepertiga wilayahnya yang dikelilingi oleh bentangan laut luas membuat penamaan Kabupaten Kepulauan Selayar tidak se tersohor kabupaten/kota lain di Indonesia.
     Namun siapa yang pernah membayangkan, bila daerah yang terletak di semenanjung paling selatan Provinsi Sulawesi-Selatan ini ternyata memiliki keanekaragaman potensi yang melimpah ruah, baik itu potensi sumber daya alam, maupun potensi khasanah seni & budaya.
     Salah satunya dapat dibuktikan dengan kembali ditemukannya kepemilikan benda cagar budaya berusia ratusan tahun oleh salah seorang warga masyarakat Lingkungan Bonea, Kelurahan Benteng Utara, Kecamatan Benteng, bernama Sitti Halijah (67 tahun).
    Benda tersebut menyerupai sebuah piring yang pada awal mulanya berwarna kuning keemasan. Akan tetapi, seiring dengan usianya yang diperkirakan telah mencapai ratusan tahun, warna kuning keemasannya pun perlahan pudar dan berubah menjadi kusam kehijauan.
    Bahkan, pinggiran bagian  dalam benda tersebut mulai bolong termakan karat, bersamaan dengan terus berputarnya rotasi waktu dan pergantian tahun. Ditilik  dari perwajahan dan warnanya yang mulai kusam, benda ini seakan tak lagi memiliki nilai historis apa-apa bagi sang pemilik barang.
    Bagi seorang Sitti Halijah, benda tersebut tak lebih dari sekedar pengalas wadah pembakaran dupa atau yang dalam dialek bahasa Selayar kerap diistilahkan dengan Pa’dupa’ang.
    Dalam penuturannya kepada wartawan yang menyambangi rumahnya di lingkungan Bonea, hari Selasa, (31/1) 2012 pagi, Sitti Halijah mengungkapkan, pada awal mulanya, barang tersebut memiliki sebuah dudukan menyerupai baki bundar berukuran besar.
     Namun belakangan, dudukan dimaksud, raib saat dialih fungsikan menjadi wadah penyimpanan makanan kambing piaraan miliknya. Meski diakuinya, benda tersebut merupakan warisan ibunya, (almarhumah) Dg. Tuleng.
     Dg. Tuleng sendiri, mangkat sekira tiga belas tahun silam, tepatnya, di tahun 2000 lalu, dalam usianya yang telah menapaki seratus tahun kurang lebih. Sangat disayangkan memang, karena Dg. Tuleng keburu dipanggil Sang Ilahi.
    Hingga, tak banyak cerita yang bisa didapatkan dan ditransfer sekaitan dengan asal muasal benda bernilai sejarah tersebut, termasuk diantaranya, kisah menyangkut lemari bupet tua, yang saat ini menghuni kolong rumah bernomor 20 di lingkungan Bonea, Kelurahan Benteng Utara itu.
  Meski demikian, realita ini kembali menjadi bahan referensi dan pembuktian terbuka, akan betapa besarnya keanekaragaman potensi wisata yang terkandung di daerah berjuluk Bumi Tanadoang tersebut.
   Dan seandainya mungkin, keanekaraman potensi yang besar tersebut dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Maka bukan sebuah hal yang mustahil, bila kedepannya, keanekaragaman ini akan dapat memberi nilai tambah tersendiri bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar secara umum. (Laporan : Fadly Syarif)      

Senin, 30 Januari 2012

PN Kepulauan Selayar Gelar Sidang Perdana Pelaku Teror Bom Kantor Bupati


Sidang perdana kasus teror bom yang beberapa waktu lalu sempat membuat  panik pegawai di  lingkungan Kantor Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulsel resmi digelar di ruang sidang utama Pengadilan Negeri, hari Senin, (30/1) pagi. 
Kasus yang mendudukkan terdakwa AB Bin PK ini mengagendakan sidang pemeriksaan saksi. Salah satunya, saksi atas nama Hasan (36 thn), anggota Polres Kepulauan Selayar yang sehari-harinya bekerja sebagai ajudan Bupati.  
Sementara, tiga orang saksi lain berhalangan hadir dan tidak dapat mengikuti jalannya sidang perdana yang diketuai Muhammad Asri SH tersebut.  Satu diantaranya dinyatakan berhalangan hadir, disebabkan urusan prinsip yang tak bisa diperwakilkan kepada orang lain.   
Hal tersebut terungkap dari berita acara pemeriksaan dan pengambilan sumpah dihadapan penyidik Kejaksaan Negeri Kepulauan Selayar yang kesaksiannya dinilai setara dengan kesaksian langsung dihadapan persidangan. 
Sebagai akibat dari ketidak hadiran dua orang saksi, sidang perkara Nomor : 04/PID/B/2012/PN. Selayar, terkait teror bom yang dikirimkan ke nomor telfon selular
Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar, Drs. H. Syahrir Wahab, MM dinyatakan, ditunda sampai dengan tanggal, (6/2) mendatang. (*)

Prosesi Pengalungan Bunga Sambut Kedatangan Wagub Sulsel


    Pendaratan pesawat Express Air yang ditumpangi Wakil Gubernur Sulsel, H. Agus Arifin Nu’mang dari Bandar Udara Internasional Hasanuddin Makassar, menuju Bandar Udara H. Aroeppala, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan disambut ratusan pejabat lingkup pemerintah kabupaten.
   Bahkan, sesaat setelah turun dari pesawat, rombongan Wakil Gubernur Sulsel langsung disambut dengan pagelaran tari panruppai to battu dibawah iringan musik gendang dan pui’-pui’.
   Kemeriahan penyambutan rombongan Wakil Gubernur Sulsel, hari  Sabtu, (28/1) pagi itu, ditutup dengan prosesi pengalungan bunga oleh tiga orang darah ayu Bumi Tanadoang berpakaian baju adat warna hijau. 
Prosesi pengalungan bunga merupakan simbol ucapan selamat datang kepada tamu-tamu daerah, di tanah tempat berdo’a, Kabupaten Kepulauan Selayar.(fadly syarif)      
 

Oknum Mengaku Pejabat Biro Kepegawaian Diduga Berkeliaran Di Lingkungan Kejaksaan Sulsel



     Kejaksaan Tinggi Sulawesi-Selatan menyurati jajaran Kepala Kejaksaan Negeri, berikut Kepala Cabang Kejaksaan Negeri,  yang berada dalam wilayah hukum Kejati Sulsel.

Menyusul terbitnya surat Jaksa Agung Muda Pembina Nomor : 148/c/cp/05/2011, tertanggal 12 Mei 2011, perihal : permintaan uang dengan mengatasnamakan pejabat Kejaksaan Agung Republik Indonesia.
   Dalam suratnya Kepala Kejati Sulsel yang diwakili Asisten Pembina, Masnaeny Jabir, SH. MH  menandaskan,  “akhir-akhir ini, terdapat orang yang mengatasnamakan atau mengaku sebagai pejabat di lingkungan Biro Kepegawaian dengan berbagai alasan yang ada hubungannya dengan mutasi/promosi jabatan atau masalah kepegawaian lainnya”.
    Pernyataan tersebut disampaikan secara tertulis melalui surat yang ditanda tangani pria berpangkat jaksa muda pratama, bersifat : segera, nomor : B-177/R-42/cpl/6/2011. (*)    

Bencana Angin Topan Luluh Lantakkan Tiga Unit Rumah Warga


Musibah angin topan yang rutin melanda Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan selama kurun waktu lima pekan terakhir, menyisakan duka dan nestapa bagi tiga kepala keluarga yang tinggal mendiami kompleks Jl. Mappatoba, dan Jl. Krg. Batara, Lingkungan Bua-Bua Timur, Kelurahan Benteng Utara,  Kecamatan Benteng.
Sukawati, Mukhtar, dan Muh. Arasa hanya bisa tertunduk pasrah melihat rumah mereka rusak tertimpa pohon kelapa, saat angin topan tiba-tiba bertiup pada hari Selasa, (24/1) sekira pukul, 21.34 Wita.
Akibat peristiwa naas tersebut, tiga unit rumah warga di lingkungan Bua-Bua Timur mengalami kerusakan parah dan berbuntut menimbulkan kerugian bernilai jutaan rupiah.
Kerusakan ketiga unit rumah ini, menambah panjang deretan catatan kerusakan rumah warga yang timbul dari bencana angin topan di Kabupaten Kepulauan Selayar.
Hingga dengan akhir Januari 2012,  lima unit rumah warga di Kabupaten Kepulauan Selayar tercatat mengalami kerusakan, satu diantaranya mengalami kerusakan ringan.
Kendati demikian, tak satupun korban jiwa yang timbul dari insiden bencana angin topan tersebut. (fadly)               




Minggu, 29 Januari 2012

Mengenang Sosok Syukri Burhan Pemimpin Umum Harian Pos Kota


Kepergian HM Syukri Burhan untuk selama-lamanya dalam usia 58 tahun pada Sabtu (28/1) pukul 01.20 WIB, mengejutkan dan terasa begitu mendadak, di tengah semangatnya sebagai Pemimpin Umum Harian Pos Kota untuk mendinamisir iklim kerja melalui berbagai perubahan akhir-akhir ini.
Pak Syukri  demikian almarhum akrab disapa di lingkungan karyawan grup Pos Kota  siapa menyangka akan pergi secepat ini kalau melihat postur tubuhnya yang subur dan segar. Sehingga ketika Sabtu dini hari, kabar duka itu datang melalui pesan singkat di telepon genggam, sesaat tak percaya.
Kenangan akan kepribadian dan pembawaannya yang kalem, serta merta melintas dalam benak kami. Rasanya seperti baru kemarin kita bersendau gurau di ruang kerjanya di lantai 2 kantor Gedung Pos Kota Jalan Gajah Mada 100, Jakarta Barat.
Pak Syukri adalah wartawan yang menggeluti dan meniti karir profesi jurnalis di Pos Kota sejak 1 November 1974.  Pembawaan kesehariannya yang kalem dan tenang, adalah salah satu kepribadian yang memudahkannya bergaul dengan siapa saja. K
Kepribadian yang tak sekadar mebuat mudah bagi kami para wartawan yunior  tapi juga nyaman.  Hal yang sungguh dibutuhkan para wartawan muda di Pos Kota di tengah suasana serba ketergesaan dan tekanan tenggat waktu dalam kerja jurnalistik.
Ketika Pak Syukri masih menjabat sebagai Redaktur Pelaksana Harian Pos Kota, beberapa wartawan dapat merasakan kenyamanan komunikasi itu. “Aspiratif terhadap bawahan,” komentar beberapa jurnalis muda saat itu.
 “Ada persoalan apa? Tak ada masalah yang tidak bisa diatasi, deh …” begitu kalimat pembuka setiap kali menerima kami yang ingin menemuinya di ruang kerja. Kalimat yang tentu saja membuat kami merasa lebih leluasa mengungkapan persoalan apa saja.
Di lingkungan wartawan liputan bidang kriminalitas misalnya, Pak Syukri piawai memotivasi agar kami terus mempertahankan militansi dan totalitas kerja.  Pesannya itu hampir selalu terselip dalam rapat-rapat formal redaksi maupun informal.
Cara penyampaian yang kalem, bahkan hati-hati dalam memilih kata,  “gaya Jawa”  sebutan kami, padahal almarhum kelahiran Palembang – membuat sebuah instruksi seolah bukan instruksi. Bahkan dalam percakapan di udara melalui handie talky (HT) pada tahun 1982, Pak Syukri yang menggunakan kode panggilan “Gajah-3”, tak bisa menghilangkan gaya kalemnya.
(Pada tahun 80-an semua wartawan Pos Kota memang dibekali HT untuk memudahkan dan mempercepat komunikasi liputan berita). “Gama 1, 10.2 (posisi, Red)?” panggilnya  pada suatu malam melalui HT. (Gama-1 adalah kode panggil untuk koordinator liputan berita kriminalitas Pos Kota).
“Lingkar badai di Selatan, Pak…” jawab saya.
“Bisa 10.8  (meluncur, Red) warung sate Gunung Sahari? Ajak teman-teman Gama yang lain ya …” Maka kamipun para “wartawan kriminal” ramai-ramai meluncur melewatkan malam dengan menyantap sate dan sup kegemaran almarhum ditingkahi senda gurau dan tawa lepas kami.  Keakraban yang membuat hubungan pimpinan  bawahan seolah tanpa jarak lagi.
Dalam menanggapi beragam keinginan para wartawan, Pak Syukri juga tipikal pepimpin yang sulit menjawab dengan menggunakan kata “tidak”. Sepanjang keinginan itu logis dan realistis, hampir pasti Pak Syukri meluluskan usulan-usulan kami.
Pada tahun 1987 contohnya, ada salah seorang wartawan yunior mengajukan rencana liputan investigasi dengan biaya relatif besar dan mengharuskan sang wartawan tidak masuk kantor selama 2 bulan.
Setelah membaca term of reference (TOR) atau rancangan liputan selidik itu, Pak Syukri tersenyum, seraya “menuntut” jaminan berhasil dengan pertanyaan, “Hasilnya pasti oke kan?”
Begitulah. Tak bertele-tele, simpel, praktis dan cepat.
Iklim kerja keredaksian yang dibangun dengan kepemimpinan yang kalem, ini ternyata tak mengurangi dinamika kerja wartawan. Walhasil dalam beberapa hal malah membuat wartawan muda Pos Kota kala itu  diam-diam berlomba-lomba unjuk vitalitas kerja dengan membuat liputan terbaik.
Ketika karir Pak Syukri terus menanjak dari redaktur pelaksana kemudian dipercaya menduduki kursi pemimpin redaksi, dan akhirnya sebagai pemimpin umum, keakrabannya dengan wartawan tak berubah.
Hanya kami para yunior yang kemudian memilih membatasi diri saat berada di kantor, tapi di luar jam kantor, Pak Syukri tetaplah senior, sahabat, motivator andal kami hingga pekan-pekan sebelum akhirnya jatuh sakit.
Kepergian Pak Syukri untuk memenuhi panggilan Sang Khalik, tentu saja merupakan kehilangan besar kami, segenap wartawan dan karyawan Pos Kota. Terlebih banyak dari kami yang tak tahu persis apa sakit Pak Syukri, karena agaknya begitulah wartawan, cenderung “abai” dengan sakit.
Malas ke dokter, merasa benar-benar sakit kalau badan sudah tak mampu bangun dari tempat tidur. Lima bulan lalu saat gula darahnya tiba-tiba naik hingga 400 yang membuatnya harus dirawat di RS di Jatinegara, Jakarta Timur, Pak Syukri terkesan tenang-tenang saja.
Sekeluar dari RS dua minggu kemudian, Pak Syukri langsung pun ngantor. Aktif kerja lagi. Agaknya itu pula yang mengakibatkan mendadak pada Desember 2011 dirawat lagi di Tangerang, kali ini karena tekanan darahnya yang terus meninggi.
Karena kondisinya terus memburuk, keluarga memidahkannya ke RSCM. Namun, belum genap dua pekan, Pak Syukri meninggal dengan tenang, dengan dihantar doa keluarga dan kerabat dekat yang mengelilinginya.
Selamat jalan, Kakanda … Beristirahatlah dengan tenang di tempat yang paling dimuliakan oleh-Nya.  (dar)

Gelombang Pasang Renggut Nyawa Siswa SMA Negeri 1 Pasimarannu



Suasana duka dan perasaan kehilangan mewarnai rumah kediaman Abu Suhail (17 thn), siswa kelas XII Program IPA, SMA Negeri 1 Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi-Selatan yang tewas terseret arus gelombang pasang saat sedang menghabiskan libur imlek dengan menyelam di bibir dermaga panjang Pulau Bonerate pada hari Senin,  (23/1) sekira pukul 05.50 Wita, kemarin.
Korban berusia 17 tahun, asal Dusun  Waikomba, Desa Bonerate ini ditemukan warga masyarakat dalam kondisi sudah tak bernyawa, pada hari Selasa, (24/1) sekira pukul 06.00 pagi.
Dari TKP, korban langsung dibawah ke rumahnya di Dusun Waikomba, Desa Bonerate untuk terlebih dahulu disemayamkan, sebelum diantar ke tempat pembaringan terakhirnya, di kompleks pemakaman Islam Waikomba. Kedatangan jenazah korban hari itu, disambut  tangis histeris keluarga yang sama sekali tak menduga, korban akan tewas dalam kondisi mengenaskan akibat terseret arus gelombang pasang. (fadly syarif)

TOP RELEASE

Gaul Cell Selayar

Gaul Cell Selayar
Jual Beragam Jenis Telefon Selular & Melayani Service Kerusakan Ponsel
Powered By Blogger